Wajah ibu kuning perak, serupa cahaya bulan yang akhir-akhir ini sering dipandanginya di kala malam dari balik jendela bertirau ungu setengah terbuka. Ia berseloyor dengan punggung menyentuh sandaran dipan. Jemari kedua saling mengapit erat, bertengger di atas perut. Jemari itu bagai mengenggam sesuatu yang belum siap ia perlihatkan pada orang lain.
Telah bertahun-tahun ibu seperti ini.
“Bimo, anakku,” kata ibu tiba-tiba.
Aku tersentak. Ibu tahu aku sedang memperhatikannya.
“Kemarilah. Ibu tahu engkau sering berada di sana."
Aku mendorong daun pintu perlahan, melangkah masuk dengan dipenuhi rasa ragu. Ibu melambaikan tangan. Setelah tak lagi ada jarak ia meraih tanganku, lalu mengusap kepalaku. Gerakannya lemah, namun aku merasakan rasa sayang yang sungguh dalam. Tubuhku terjamah cahaya bulan. Ternyata, rasanya hangat.
“Baringkanlah kepalamu di pangkuan ibu", suara ibu sangat pelan. “akan ibu ceritakan sebuah kisah".
Aku menuruti perintah ibu. Setelah lebih dari dua puluh tahun, baru kali ini aku kembali membaringan kepala di pangkuannya. Tangan ibu sehagat sinar bulan, tapi tak lama kemudian aku merasakan dua tetes air jatuh di sela-sela rambut.
“Ibu.” Aku memeluknya tanpa mengangkat kepala.
“Bimo, dengarkanlah,” suara ibu gemetar.
Ibu lalu bercerita:
Berpuluh-puluh tahun lalu, ada dua kakak beradik. Ning dan Neng. Mereka dianugerahi wajah yang cantik. Ning lebih penyabar dan lembut. Itulah mengapa orangtua mereka terlihat lebih sayang padanya.
Ketika remaja, ada anak orang kaya bernama Agil yang jatuh cinta pada Ning. Orangtua mereka telah saling setuju. Diam-diam Neng juga mencintai Agil. Tanpa sepengetahuan Ning, Neng berusaha mendekati Agil. Agar memiliki pesona di mata Agil, Neng malah pergi ke dukun untuk memasang susuk. Dukun itu juga memantrai Agil agar di setiap malam ia memimpikan Neng.








