Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

TUJUH TOKOH PERINTIS JAMAN

Dalam perjalanan naik Haji kedua kalinya (1902), KH Ahmad Dahlan menyempatkan diri mempelajari aliran pembaruan Islam bersumber dari kitab-kitab karangan para pembaru dari Mesir. Mula-mula Khatib Amin jabatan KH Ahmad Dahlan tertarik pada Tafsir Muhammad Abduh. KH Baqir, kerabat KH Ahmad Dahlan yang menetap di Makkah (sejak tahun 1890), memperkenalkan Khatib Amin dengan Rasyid Ridla, murid dan kawan seperjuangan Muhammad Abduh.

Sepulang naik Haji, Khatib Amin me rintis gerakan pembaruan Islam dengan motor penggeraknya kaum muda di Kauman, Yogyakarta. Ia merintis sebuah gerakan di tengah-tengah masyarakat yang mengisolasi diri dari dunia luar. Budaya taklid telah menenggelamkan akal sehat. Para ulama yang menjadi kunci kemajuan agama justru malas berpikir. Begitu kuatnya para ulama berpegang teguh pada fiqih-fiqih klasik sampai mereka lupa bahwa sumber ajaran Islam yang murni adalah Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Pada tahun 1911, dalam sebuah pertemuan diskusi di rumah KH Sa’idu, KH Ahmad Dahlan mencetuskan nama “Muhammadiyah” untuk gerakannya. Ia didukung oleh pemuda Kauman yang penuh semangat dan idealisme. RM Dwijosewojo dan R Boedihardjo (ketua dan sekretaris Boedi Oetomo cabang Yogyakarta) menawarkan bantuan kepada KH Ahmad Dahlan untuk mengurus pengajuan rechtpersoon perkumpulan yang akan didirikan. Tawaran bantuan tersebut dengan satu syarat, KH Ahmad Dahlan harus mengumpulkan minimal tujuh orang yang akan membentuk kepengurusan Boedi Oetomo Cabang Kauman. Tawaran tersebut lekas dipenuhi. KH Ahmad Dahlan berhasil mengumpulkan enam pemuda Kauman. Mereka adalah: RH Sjarkawi, H Abdoelgani, H Sjoedja’, H Hisjam, H Fachrodin, dan H. Tamim. KH Ahmad Dahlan sendiri menggenapi syarat minimal tujuh orang tersebut. Ketujuh tokoh pemuda Kauman yang telah membuka jalan bagi Muhammadiyah dalam rangka mendapatkan rechtpersoon dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda merupakan para perintis Persyarikatan ini.

K.H. Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 dengan nama kecil Mohammad Darwis. Dia putera KH Abubakar bin KH Sulaiman, Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta. Umurnya selisih tiga tahun lebih muda dengan Rasyid Ridla, tokoh pembaru Islam dari Mesir. Selain menjabat sebagai Khatib Amin, KH Ahmad Dahlan seorang pengusaha batik dan aktivis pergerakan. Jaringan bisnisnya meliputi Batavia, Cianjur, Semarang, Surabaya, dan Padang. Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan anggota Jam’iyatul Khair (berdiri 1901). Dia tercatat sebagai anggota nomor 770. Pada tahun 1912, dalam usia 44 tahun, Khatib Amin mendirikan Muhammadiyah.

RH Sjarkawi
Raden Haji Sjarkawi putra KH Abdul Jalil, Khatib Wetan. Nyai Khatib Wetan adalah salah satu putri Kiai Penghulu Muhammad Maklum. Dia bersaudara dengan KH Ahmad Maklum, ayah Haji Anies (ayah Junus Anies). RH Sjarkawi bersaudara dengan H. Abdul Hamid dan HA Djawad. Tahun kelahiran Sjarkawi tidak berhasil dilacak. Tetapi, berdasarkan dokumentasi photo pada tahun 1919,Sjarkawi masih kelihatan muda bersama KH Ahmad Dahlan ketika menyambut tamu Al-Hasyimi (guru sekolah Al-Attas) di Kauman. Sjarkawi adalah salah satu dari tujuh tokoh perintis Muhammadiyah yang namanya tercatat dalam struktur selain KH Ahmad Dahlan.

Jumat, 17 Desember 2010

Bersiaplah untuk KECEWA

Ada kabar dari Geoff Colvin, editor senior di Majalah Fortune. Penulis sekaligus dosen ini menyuguhkan data mengejutkan dalambukunya bertajuk Talent Is Overrated (2008). Buku tersebut menunjukkan betapa kita terlalu berlebihan memuja-muja bakat dan kejeniusan. Padahal, semua itu nyaris tak memberi manfaat apa-apa bagi masa depan anak, baik untuk meraih sukses maupn kebahagiaan.
 Bakat dan kejeniusan bukanlah kunci utama meraih sukses, apa pun bidang yang dia tekuni. Kunci paling pokok untuk meraih sukses bukan bakat besar maupun kejeniusan. Bkan pula ketrampilan melakukan hal-hal yang dianggap luar biasa oleh pada umumnya. Bahkan pebisnis maupun intelektual sukses yang IQnya rata-rata. Bukan superior, apalagi jenius. Bahkan ada yang IQnya sedikit di bawah rata-rata, tetapi ia memiliki ketahanan mental yang luar biasa untuk belajar dan menghadapi berbagai kesulitan, termasuk hambatan fisik.
Sebagian orang sukses memang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Ia benar-benar memiliki kemampuan intelektual yang bagus, bukan sekedar mampu mempertunjukkan kebolehan yang bersifat langka. Tetapi harus dicatat bahwa mereka meraih sukses itu melalui kerja keras yang luar biasa hebat dalam belajar. Merak gigih belajar dan berlatih tatkala orang lain sudah terlelap. Kisah sukses Imam Syafi’i rahimahullah misalnya, bukan terutama soal kecerdasan, tetapi berkait erat dengan kemauan belajar yang luar biasa sekaligus kesanggupan untuk menghadapi kesulitan. Ini menjadikan seorang Imam Syafi’i yang ketika itu masih kanak-kanak, mampu bertahan untuk disebabkan ia tidak memiliki kemampuan sekonomi untuk belajar di kelas sebagaimana anak-anak lain. Kisah Imam Bukhari mencari sebuah Hadits adalah contoh lain tentang betapa berharganya kesediaan untuk menderita demi meraih apa yang diyakininya berharga. Ia telah menempuh perjalanan panjang yang sulit hanya untuk memperoleh sebuah hadits, meskipun Hadits itu akhirnya tidak ia perhitngan karena ternyata lemah.

Rabu, 13 Oktober 2010

JATUHNYA TIGA KOTA DI ANDALUSIA

Awalnya Andalusia berada di bawah kekuasaan Bani Umayah. Namun setelah kekuasaan mereka berakhir, Andalusia dikendalikan beberapa kerajaan atas kesamaan klan alias mulku at thawaif.
Peristiwa proses jatuhnya tiga kota besar di Andalusia; Qulamariyah, Valencia, dan Toledo mengisahkan secara jelas sifat egois kelompok dari klan-klan yang begitu kuat. Tak jarang terjadi saling serang antar sesama Muslim sendiri.
Sebaliknya, terhadap penguasa-pengusa Kristen yang sebenarnya menjadi ancaman utama, mereka malah bersikap manis. Bahkan mereka selalu berusaha menghindari peperangan dengan penguasa Kristen dan lebih memilih membayar upeti. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari peritiwa yang amat menyedihkan ini.

Jatuhnya Valencia 
(Kota Muslim, Diincar Kaum Muslim dan Kristen)

Dua pemerintahan Muslim bersaing untuk memperoleh bantuan dari kerajaan Kristen. Bani Hud meminta agar mereka membantu menyerang Valencia, sedangkan Valencia meminta perlindungan dari serangan Bani Hud.

Pada tahun 457 H, Fernando pemimpin Qisytalah dengan penuh percaya diri menyerang Valencia yang saat itu dipimpin oleh Abdul Malin bin Abdul Aziz. Keinginan menyerang Valencia, sesungguhnya sudah tumbuh sejak berhasil menduduki Qulamriyah dengan tanpa peperangan satu tahun sebelumnya.

PANGLIMA ISLAM PENAKLUK DUNIA

Meluasnya wilayah dakwah Islam tak lepas dari peran para panglima Islam. Dengan keberaian, kecerdasan dan semangatnya, mereka berhasil menaklukkan daerah-daerah baru dan tunduk kepada aturan Islam. Siapa saja mereka? Berikut diantara para panglima itu.

‘Uqbah bin Nafi’
‘uqbah bin Nafi’ dikenal pemuda pemberani dan cerdas dalam strategi dan taktik militer. Melihat kemampuan itu, Khalifah Mu’awiyah memberikan amanat kepada ‘Uqbah untuk memimpin tentara Islam menaklukkan wilayah Afrika.
Bersama 10 ribu pasukan yang dipimpin ‘Uqbah berhasil melakukan ekspansi wilayah keuasaan Islam dengan menakulkukkan seuruh Afika Utara. Penaklukkan ini diawali dari wilayah Tunia. Di tempat ini, ‘Uqbah bersama pasukannya membangun sebuah kota yang dikenal dengan sebutan Qairawan (Kairouan). Oleh ‘Uqbah, Qairawan dijadikan pusat pemerintahan Islam di Afrika Utara.
Setelah mengusai Tunisia, ‘Uqbah menaklukkan Kur, sebuah wilayah di Sudan. Di bawah komandonya pula, pasukan Islam mampu melakukan ekspansi sampai ke wilayah Maghrib Tengah (Aljazair). ‘Uqbah dibunuh ketika dalam perjalanan pulang ke Qairawan selepas beliau melakukan pertempuran di Algeria Timur pada tahun 684 M.

Khalid Bin Walid
Sebelum masuk Islam, Khalid sempat menjadi panglima perang kaum Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pasca perjanjian Hudaibiyah yang terjadi pada 628 M, Khalid memutuskan masuk Islam. Tiga tahun berselang, untuk pertama kalinya ia bergabung dalam pasukan Islam dalam pertempuran yang cukup penting, yakni pertempuran Mu’tah.
Dalam pertempuran tersebut, ia menjadi prajurit bisaa bersama 3.000 pasukan Madinah lainnya menghadapi sekitar 200 ribu pasukan Romawi Timur. Di tengah pertempuran yang berlangsung selama tujuh hari ini, ia ditunjuk menjadi panglima karena tewasnya tiga panglima yang sebelumnya telah ditunjuk, yaitu Zayd bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan ‘Abdulah bin Rawahah. Di hari ketujuh perang berakhir dengan mundurnya kedua belah pihak. Dalam pertempuran ini, Khalid mematahkan sembilan pedangnya yang menunjukkan betapa sengitnya pertempuran antar kedua belah pihak.
Khalifah Abu Bakar ‘Ash-Ashiddiq kembali meminta Khalid memimpin 18 ribu pasukan Muslim untuk berperang melawan pasukan Persia. Pasukan Muslim yang dipimpinnya berhasil membuat pasukan musuh bertekuk lutut dan menguasai wilayah Persia.

Shalahuddin Al-‘Ayubi